Pages

Saturday, October 13, 2012

my story : Memorable Getas 9 Hari Pertama (part I)


Lama tak bersua blogger ! hahaha. Setelah berbulan – bulan dan bulan lamanya tampak jelas jarring laba – laba dan lumut – lumut menghiasi dinding – dinding blog (dalam imajinasiku tentunya). Tertunda untuk melanjutkan cerita tentang Rusia kini ada cerita baru lagi tentang yang namanya PU GETAS.( Apa itu? ) weiitss sabar dan tunggu sebentar! Cerita yang ini nggak kalah serunya sama Russia. Hahaha. Tentang hutan belantara yang dikelola perusahaan kehutanan no 1 di pulau Jawa beserta suka duka yang tercipta pada setiap kegiatan di dalamnya.

Jadi ceritanya Praktik Umum Pengelolaan Hutan Lestari atau yang sering dikenal dengan sebutan PU Getas (soalnya tempatnya di kampus lapangan FKT UGM di Getas sana dan sekitarnya) merupakan the biggest praktikum di FKT UGM. Praktikum ini semacam kalkulasi alias gabungan dari banyak praktikum di beberapa mata kuliah seperti perencanaan, inventarisasi, silvikultur, ekologi, bla bla bla de el el yang tadinya dilakukan selama beberapa semester menjadi digabung dan dilakukan selama 1 bulan saja. (Luar biasa pokoknya !) Jadi selama 1 bulan itu kita harus siap fisik dan mental buat menghadapi segala tantangan dan rintangan yang ada. Mau nggak mau semua mahasiswa kehutanan harus lulus dalam praktikum ini biar bisa dapet gelar S.Hut dan hengkang dari kampus FKT UGM tercintah.

WELCOME TO THE JUNGLE !!!! ^^b


Karena kuota kampus lapangan dalam menampung mahasiswa itu terbatas jadinya semester ini PU Getas terbagi jadi 3 gelombang. Dan akyuh (iyuuhh) termasuk gelombang kedua! dan itu sesuatuuu bangeeett. Gimana nggak? Di gelombang kedua, PU Getas dilakukan 2 kali , yakni sebelum lebaran 9 hari dan setelah lebaran 23 hari. Pada awalnya, saat liat pengumuman tentang pembagian gelombang pemberangkatan PU rasanya bagai perahu terhantam tingginya gelombang pasang. Gimana nggak? Awalnya udah optimis gelombang pertama gara – gara nilai pretest yang tidak terduga eh ternyata takdir berbicara berbeda.ya sudah karena nggak bisa berbuat apa – apa akhirnya Oke lah aku terima aja . pastinya ada hikmah dibalik semuanya (batinku saat itu). 

Dan pengumuman kelompok kecil pun tiba.. jeng – jeng !! tiba – tiba si sunny menjerit (hpku maksudnya) . sebuah sms pun masuk.
“Umamii , kita PU 1 kelompok .”
Oh Yes ! dapet kelompok barengan sama teman 1 kos, sebut saja Acil (nama aslinya Dyah). Ku balaslah smsnya
“aseekk . sama sapa aja cil?”
“ada faqih, hale, zumas,  jodhi, sama mbak beta” balas Acil.
Oh my God!! Who are they? Sapa tuh mereka? Entah aku yang cupu kurang gahul gara2 nggak tau sapa mereka ato sebaliknya. hahaha. Suer Duarius deh!! Dari 5 orang yang disebutin Acil, aku cuma kenal sama Jodhi (gara – gara kita satu jurusan) sedangkan lainnya? Awalnya aku nggak kenal sama mereka. Paling sebatas tau aja tapi nggak kenal.  Saat itu batinku dalam hati “Mampuslah aku. 1 bulan bakalan barengan sama orang – orang asing”. 

dari kanan ke kiri : Zumas, Mbak Beta, Hale, Acil, Faqih | aku di mana?? | jangan tanya lah jelas2 aku fotografernya :( :p
 
Beberapa waktu kemudian, perkumpulan pra PU diadakan (di Tamtim FKT UGM). Akhirnya mulai ada bayangan mengenai orang – orang itu. Meski belum kenal – kenal amat sih ya yang penting dengan tatap muka itu minimal dah tau sama orang – orangnya. Dari pertemuan yang cukup singkat itu akupun mulai membuat hipotesa “kami sekelompok orang pendiam *kecuali Acil” :p

Waktu terus berjalan . hari H pun tiba. 14 Juli 2012.
“kelompok 8 sudah lengkap?” teriak pak Dosen mengecek kehadiran kami para mahasiswa peserta PU.
Kelompokku (8) masih kurang 2 orang, Faqih dan Jodhi. Tanpa ba bi bu lagi ku sms mereka. Faqih (replied) “lagi otw” dan Jodhi (no replied) diketahui nggak jadi berangkat karena sesuatu hal.
Setelah semua peserta lengkap, sambutan panitia dosen telah terucap, dan bus sudah siap, kami pun berangkat!
La la la .. setelah beberapa jam perjalanan yang dilalui bersama PO. SK yang luar biasa (meski sempat terkena bencana kebocoran ban) kami pun tiba di sebuah tempat yang dikenal dengan Banjarrejo. Dan tanpa disangka  – sangka kendaraan yang lebih luar biasa telah datang untuk menjemput kami semua. Kendaraan itu lah yang akan menjadi teman setia perjalanan kami semua di PU Getas. Diawali dengan huruf T dan diakhiri dengan K. TRUK!!!

±12 km ditempuh dalam waktu ±2 jam. Dengan kondisi jalan yang membuat kami semua bergoyang di sepanjang perjalanan akhirnya terbayar juga dengan kondisi kampus lapangan yang jauh lebih baik dari yang ku bayangkan. 

Sore berganti malam.

sore menjelang malam | halaman belakang kampus getas

Teng teng teng .. bunyi lonceng terdengar nyaring. Suara itu yang kelak akan selalu dinanti – nanti oleh peserta PU yang perutnya sudah terasa menggelar konser keroncong (baca : lapar). Yup! Pertanda sajian makan malam telah tiba. Ikan pindang tepung goreng tanpa tulang dan sayur nangka muda membuka menu makanan di kampus lapangan tercinta itu. Seusai makan malam, sebuah panggilan merdu berasal dari “villa” Widyagama menandakan saat berleha – leha telah usai.
“kepada semua perserta PU gelombang 2 UGM segera merapat ke Aula Tectona untuk acara pembukaan PU yang dilanjutkan dengan Juknis” (kurang lebih begitu lah intinya. hehe.)

Ini dia kenampakan dar dapur wanaboga tercinta yang selalu menyediakan menu makanan istimewa .. hehe
Kalo yang ini villa widyagama yang super exclusive | hanya orang - orang tertentu saja yang boleh masuk mengacak acak sampai ke dalamnya | baca : kakak  coass dan dosen

Aula Tectona yang beraura luar biasa | kadang membawa bahagia kadang juga ... hahahaha

Nampak muka – muka “bersemangat” keluar dari Aula Tectona setelah acara itu. Bagaimana tidak baru hari pertama belum genap, tugas untuk keesokan hari yang harus dikerjakan malam itu juga sudah melambai – lambai di depan mata. Dengan perasaan yang berapi – api kami (kelompok 8) memutuskan untuk mengerjakan di “villa” 11 as the biggest room after Mosque and aula Tectona. Tanpa perkenalan resmi dengan sok kenalnya (aku) mulai mengakrabkan diri dan beradaptasi dengan lingkungan. Dan hipotesaku masih berlaku saat itu. Tetapi setelahnya seiring dengan berjalannya waktu hipotesaku mulai terbantahkan secuil demi secuil.


Hari – hari berikutnya,
Mengutip lagu yang dinyanyikan om om dari boyband legendaris Westlife yang judulnya “If I let you go” bagian Day after day time passed away , ya intinya sih hari demi hari waktu terus berlalu, suka duka PU getas mulai terasa. Pagi sampai sore ambil data di lapangan, malam harinya juknis lalu ngerjain laporan, tidur saat ayam sudah mulai berkokok, bangun saat matahari sudah mulai mengintip, kalo kata pakde haji Rhoma Irama “Bergadang jangan bergadang” kita bilang “Bergadang ayo bergadang”, boleh dikata semua itu sudah jadi kebiasaan selama 9 hari periode 1 PU getas gelombang 2. Bahkan saat puasa pertama kami tidak tidur sama sekali sampai pagi, padahal paginya kami tetap ke lapangan. Tapi karena emang dasarnya udah niat mau ibadah puasa ya Alhamdulillah nggak mokah lah. Hahaha.

Musim kemarau yang sedang melanda pun tak lupa turut serta berpartisipasi dalam rangka mengukir suka duka PU Getas. Bayangkan saja karena  krisis air kami mandi 1 kali sehari setelah dari lapangan, itu pun dengan pemakaian air yang dibatasi. Terkadang karena khilaf nghabisin stok air yang ada, alhasil saat ingin buang hajat harus nimba di sumur terlebih dahulu. Itu pun terkadang sumurnya sudah sulit untuk diambil airnya karena mengering. Tak jarang aku mengangkut air dari sumur di bawah sampai ke kamar (lantai 2).  Sering pula tissue basah digunakan sebagai andalan (the last choice) untuk bersih – bersih badan. Walau bagaimanapun juga ada hikmah yang bisa aku ambil dari kejadian tersebut yakni kita harus hemat air. Nggak boleh boros. Air itu sangat penting jangan sampai terbuang percuma.


Dokumentasi perjuangan demi seember air hahaha | model : Acil, Riri | 


Nggak cewek nggak cowok sama - sama butuh air hahaha | model : Acil (lagi), Faqih |


Suka duka lain, sempat ada kejadian yang nggak pernah kusangka sebelumnya suatu ketika dimana kejenuhan mulai melanda sosok ceria seperti Acil Marucil pun jadi pernah marah – marah mirip orang depresi gara – gara data yang sampe pukul 3 dini hari belum kelar diolah juga. Kondisi badan yang sempat ngedrop sampai suara yang hilang entah nyangkut atau jatuh di hutan bagian mana pun pernah aku alami. Bahkan aku juga pernah dibilang mirip panda kebalik sama teman satu kamar yang inisialnya Mbak Nai gara – gara mukaku yang belang dimana bagian yang putih membentuk pola lingkaran macam lingkaran hitam di sekitar mata panda.(Gimana nggak belang? Kondisi lapangan getas yang panas banget itu bikin sebagian besar mukaku yang nggak terlindung jadi gosong. Mau pake slayer susah nafas, mau pake sunblock nggak biasa, mau pake caping nggak punya, mau pake apa lagi coba? Ya akhirnya kurelakan bagian tak terlindung itu terbakar matahari. Karena aku berjilbab dan berkacamata bagian yang nggak terlindung cuma bagian sekitar mata sama jidat. Uudahlah nggak usah dibayangin! haha). Meski begitu untunglah kita punya kakak coass yang baik hati seperti (sebut saja) mbak siska yang sering ngasih semangat baik secara moril maupun materiil (nganterin minum ke lapangan, mbeliin cokelat ful*o buat cemilan, de el el).

see? how dark I am? haha | dengan muka lusuh kesempatan foto sama Zeeppii :p |
ini dia coass kita yang baik hati ngasih cokelat fullo sama ntraktir mie ayam sebut saja mbak Siska .. hehe

Perbedaan pendapat diantara banyaknya kepala (cuma 5 padahal) yang bikin suasana jadi lumayan beraura pun selalu berusaha mengiringi jejak langkah kami. Nggak di kampus lapangan, nggak di lapangan itu sendiri membuatku sadar akan sesuatu, “Dalam hidup bermasyarakat (berkelompok) tak akan pernah bisa berjalan dengan harmonis bila ketinggian ego yang dimiliki saling berusaha untuk menyaingi. Oleh karenanya untuk menciptakan kondisi yang harmonis kita harus pandai – pandai dalam memanage ego kita sampai akhirnya tercipta solusi kreatif untuk menjembatani keinginan dari semua ego untuk mencapai satu tujuan yang sama” (cieeehhh .. gara – gara PU Getas aku jadi sok bijak :p) walau terkadang praktek lebih susah dari pada teori at least ada usaha untuk meredam aura – aura negatif yang tercipta. Tapi beneran loh berdebat sesuatu yang nggak begitu prinsip di lapangan itu nggak guna, malah menurunkan prestasi kerja dan membuang – buang waktu. Hahaha.

Kalo kata si Acil sih ya “ih juendeess” (ih nyebelin banget !)

diskusi di lapangan panas - panas menjadi suatu rutinitas | model : Faqih, Hale |
istirahat sambil dskusi di lapangan | model : Zumas, Acil, Mbak Beta, Hale, Faqih | aku manaaaa?? | uma si potograper :p
 
Ya gara – gara suka duka yang tercipta itulah yang bikin kenangan di PU Getas menjadi berkesan dan istimewa.

sebuah anak tangga yang tidak sengaja tercipta | judul : berikan kesempatan bergaya | model : Acil, Mbak Beta, Hale, Faqih | aku manaaa??? | seperti biasa uma si potograper | Zumas? | lagi narik tali tampar yang ujungnya dipegang Hale |
*to be continued .


"kalo mau jadi fotografer itu nggak boleh narsis" (Mashumi, 2012) | judul : Melas Ing Tengah Alas ( translate : nelangsa di tengah Hutan) | model : uma si potograper | timer mode : on | mana lainnya??? | lagi pada istirahat di gubug | ini lagi puasa pertama hahaha



warmly,
マシュミウ

with pevi in my lovely 47's widest room
it's raining outside makes me really sleepy
12:16 am time to sleep
konbanwa ~
oyasuminasai minna san ~ 

4 comments:

  1. uma keren beut dah...
    Praktikum yang paling menguras jiwa dan raga baget...
    Ditunggu kelanjutannya yak.
    5 jempol

    ReplyDelete
  2. hahaha ..
    banget ! tapi paling mengesankan juga menurutku :p
    he 5 jempol? nyuri di mana jempol yang 1 nya? hahaha ..
    drimu juga yun bikin cerita pasti keren he~

    ReplyDelete
  3. jadi Nostalgia :D

    wah sayang loh klo fotografer g boleh narsis di tempat sebagus getas :p

    ReplyDelete
  4. hahaha ~ emang berkesan banget praktek yang satu ini ..

    habisnya kalo pada narsis semua nggak ada yang fotoin .. so, daripada nggak ada kenang2annya sama sekali ya mau ga mau deh :p he~

    ReplyDelete